Kalam Dalam Esensi 'Ubudiyah

KALAM... kalimat yang tak jarang ditemui para santri saat ia mulai duduk di bangku pesantren bahkan di bangku kuliah sekalipun. Definisinya selalu sama , merupakan rangkaian kata yang dapat memberikan suatu pemahaman dan memiliki arti yang telah ditetapkan dalam kaidah bahasa arab. Namun , edisi " Kalam " kali ini berbeda. Memiliki porsi yang lebih mengena pada dunia " sufi " . Memang sangat mengagumkan, bila kita melihat para pakar keilmuan islam di era sebelum meng - globalnya dunia. Mereka selalu memiliki kesinambungan yang sinerjik dan dinamis dalam mendefinisikan suku kata yang terlahir dalam suatu fan ilmu . Yups, contohnya disini adalah Al 'Arif Billah Sayyid Syekh Abdul Qadir Al Kuhin . Beliau telah berhasil menjamah ilmu nahwu dari sisi " tasawuf " tanpa mengurangi indikator utama dan tetap mempertahankan cangkang dari ilmu nahwu itu sendiri. Disinilah, kita dapat melihat relasi antara pola pikir Imam Sibawaih dalam dunia kebahasaan dan Imam Al Kuhini dalam dunia ketasawufan . Oke gaes, kembali lagi ke pembahasan kalam. Imam Al Kuhin menuturkan kalam sebagai rangkaian kata yg tersusun dari ucapan dan perbuatan yang menghantarkan manusia kepada Dzat Yang Maha Suci. Ucapan tanpa perbuatan itu pincang , perbuatan tanpa ucapan kesempurnaan yang tidak sempurna , sedangkan ucapan dan perbuatan ialah kesempurnaan yang hakiki. Imam Abul Azaim ra berkata " من تكمل   علما وتكمل ادبا كان وارثا لرسول الله صلى الله عليه وسلم "
~ Barang siapa yang menyempurnakan ilmu dan adabnya , maka Ia akan menjadi Pewaris Rasulullah saw ~
Jika kalam dalam versi kebahasaan menyuguhkan tiga bagian utama, maka tasawuf pun membaginya menjadi tiga :
1) Syari'at  : yang berwujudkan sabda - sabda Rasulullah saw 
2) Thariqat : merupakan perbuatan - perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw
3) Hakikat : merupakan ahwal Rosulullah saw dengan Allah swt.
Bukankah relasi ketiga bagian itu simetris ? 1. Syari'at memiliki munasabah yang erat dengan isim, dimana keduanya mengandung objek yang sama " perkataan " .
2. Thariqat merupakan rangkaian prilaku , dimana pemaknaan ini pun diadopsi oleh Fi'il.
3. Hakikat , sebuah penamaan yang tidak akan berarti tanpa dua subjek sebelumnya . Begitu pula dengan huruf yang tidak akan bermakna tanpa disisipkan kata yang menggandengnya. 
Ketiga fase itu merupakan jalan yang sempurna untuk meraih Ridha Allah swt dan Rasulullah saw . Sebagaimana kalam pun akan menjadi sempurna ketika dipenuhi ketiga esensinya. Wallahu a'lam
Referensi :كتاب فضل الله المتجدد oleh Maulana Syekh Ala Muhammad Mushtafa Naimah
Alexandria, 21 September 2018
04.32 am


Komentar